Keluar Dari Zona Nyaman
Assalamualaikum Wr.Wb
Salam sejahtera untuk kita semua
Perkenalkan saya Diva Aliefia dari angkatan 2022 prodi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.
izinkan saya untuk membagikan sepenggal cerita saya selama liburan akhir semester.
Dua bulan bukan waktu yang sebentar jika digunakan untuk bersantai saja. dua bulan merupakan tenggat waktu yang cukup panjang untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. sebagai mahasiswa, tentunya kita harus punya pikiran yang kritis. bayangkan, apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengisi kekosongan waktu kita? dalam tenggat waktu yang cukup lama, kita harus tetap produktif. memanfaatkan waktu dengan baik, punya rencana rencana yang membuat value kita grow up. karena, good looking saja tidak cukup. good looking hanya tolak ukur manusia saja. sedangkan diri yang berkualitas, itu menjadi sebuah keharusan.
Saya dibesarkan dalam lingkungan pesantren. tepatnya dipondok tahfidh. jadi sejak saya bersedia mondok dipondok tahfidh, sejak saat itu juga saya siap bertanggung jawab untuk menjaga hafalan saya. seperti yang sudah saya katakan tadi, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. maka dari itu dalam liburan semester ini, saya ingin keluar dari zona nyaman yang membuat saya 'tertinggal'. liburan semester kali ini, saya memutuskan untuk 'menjadi santri' lagi di daerah sekitar Pamekasan. tentunya hal tersebut saya lakukan untuk memperkuat hafalan sekaligus mengisi waktu luang saya agar lebih bermanfaat dan setidaknya tidak bermalas-malasan untuk melatih diri saya menjadi pribadi yang lebih produktif. ada beberapa kebijakan kampus yang membuat liburan mahasiswa tak lepas dari tugas. hal tersebut sangat membantu mahasiswa agar pikiran mereka tidak kosong. "Sekali menyelam, dua tiga pulau terlewati" Pasti dari kalian pernah mendengar atau membaca pepatah tersebut. peran saya dipondok ini bukan 'menjadi santri' saja. sebagai mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat, saya ingin menerapkan ilmu yang sudah saya pelajari selama berkuliah.
Seperti yang kita ketahui Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan faktor utama penentu status kesehatan masyarakat pesantren (pimpinan pesantren, ustadz/ustadzah, santri, pegawai lainnya di pesantren). PHBS di Pesantren adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan masyarakat pesantren secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Pentingnya menerapkan PHBS bagi masyarakat pesantren juga sesuai dengan amanat dari Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Pasal 11) yang menegaskan bahwa setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi-tingginya.
- Mencuci tangan menggunakan sabun
- Mengonsumsi makanan dan minuman sehat
- Menggunakan jamban sehat
- Membuang sampah di tempat sampah
- Tidak merokok, tidak mengonsumsi Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA)
- Tidak meludah di sembarang tempat
- Memberantas jentik nyamuk dan lain-lain dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan.
Alhamdulillah dengan adanya kesadaran dan akan pentingnya kesehatan dari masing masing santri di pondok ini, PHBS dapat diterapkan dengan baik karena jika kurang disiplin dalam menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, menderita scabies/skabies, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), penyakit gastritis, kecacingan, dan penyakit kulit. Terutama penyakit kulit, bahkan bisa dikatakan cukup sulit dihindari oleh santri. Tidak lain penyebab utama penyakit tersebut rata-rata terjadi juga oleh karena kondisi kebersihan diri santri dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Oleh karena itu, meningkatkan PHBS Pesantren sangat penting demi terciptanya para santri yang sehat. Hal ini disebabkan oleh karena kesehatan juga menjadi faktor penting agar para santri dapat belajar dan memahami ilmu di pesantren dengan lancar.

Komentar
Posting Komentar